
Oleh : Pujiono
Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Boyolali
Di langit yang sama, bulan yang sama terbit. Di bumi yang satu, umat yang satu bersujud. Namun setiap tahun, kita kembali dihadapkan pada perbedaan: kapan mulai berpuasa, kapan berhari raya. Hilal global dan hilal lokal seolah berdiri berhadap-hadapan—bukan sekadar soal metode, tapi seringkali berubah menjadi soal perasaan, bahkan perpecahan.
Padahal, Islam datang untuk menyatukan, bukan memecah belah.
Perbedaan dalam menentukan awal bulan hijriyah bukanlah hal baru. Sejak dahulu, para ulama telah berbeda pendapat dalam memahami rukyat (melihat hilal) dan hisab (perhitungan astronomi). Ada yang berpegang pada rukyat lokal—setiap wilayah memiliki pengamatan sendiri. Ada pula yang mendorong rukyat global—satu hasil rukyat berlaku untuk seluruh dunia.
Keduanya lahir dari ijtihad. Keduanya punya dasar. Keduanya bertujuan sama: mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.
Masalahnya bukan pada perbedaan, tapi pada sikap kita terhadap perbedaan.
Seringkali, yang membuat umat terasa jauh bukan karena hilalnya berbeda, tetapi karena hati yang tidak siap menerima perbedaan. Kita mudah menyalahkan, merendahkan, bahkan mencibir saudara sendiri yang berbeda pilihan. Seolah-olah kebenaran hanya milik satu kelompok.
Padahal, jika kita menengadah ke langit malam, bulan tidak pernah memilih siapa yang berhak melihatnya.
Di sinilah kita perlu kembali pada ruh persatuan.
Persatuan umat tidak harus berarti keseragaman mutlak. Islam tidak menuntut kita menjadi sama dalam semua hal, tetapi mengajarkan kita untuk tetap bersaudara dalam perbedaan. Seperti para sahabat Nabi yang berbeda dalam ijtihad, namun tetap saling menghormati dan menjaga ukhuwah.
Hilal global mengajarkan kita tentang cita-cita kesatuan dunia Islam.
Hilal lokal mengajarkan kita tentang kearifan dalam keberagaman wilayah.
Keduanya bisa kita pandang sebagai kekayaan, bukan ancaman.
Yang lebih penting dari “kapan kita mulai” adalah “bagaimana kita menjalani”.
Apakah puasa kita melahirkan ketakwaan?
Apakah Idul Fitri kita benar-benar menghapus dosa dan mempererat silaturahmi?
Karena sejatinya, perpecahan hati jauh lebih berbahaya daripada perbedaan hari.
Mari kita ubah cara pandang.
Jika ada yang berpuasa lebih dulu, doakan.
Jika ada yang berhari raya lebih dulu, hormati.
Jika berbeda, tetap rangkul.
Sebab kita hidup di bumi yang satu, di bawah langit yang sama, menuju Tuhan yang satu.
Dan mungkin, di mata Allah, bukan siapa yang paling cepat melihat hilal yang paling mulia, tetapi siapa yang paling lapang dadanya dalam menjaga persaudaraan.
Hilal boleh berbeda, tapi hati jangan terbelah.
Kamis, 19 Maret 2026


Comment