Opini
Home » Berita » Ojo Nganti Ngoyak Uceng Kelangan Deleg

Ojo Nganti Ngoyak Uceng Kelangan Deleg

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0;
brp_del_th:null;
brp_del_sen:null;
delta:null;
module: portrait;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 35;

Ojo Nganti Ngoyak Uceng Kelangan Deleg

Oleh : Pujiono
Ketua FGM Kab. Boyolali / Mudir PonpesMu Manafiul Ulum Sambi

Di tengah dinamika kehidupan modern, godaan bagi seorang guru semakin beragam. Peluang mencari tambahan penghasilan terbuka luas: membuka les privat, jualan online, hingga mengisi berbagai kegiatan di luar. Semua itu pada dasarnya tidak salah. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika aktivitas “sampingan” justru menggeser bahkan mengalahkan tugas utama.

Hari ini, kita menyaksikan fenomena yang patut direnungkan bersama. Banyak guru yang telah diamanahi pangkalan utama, bahkan telah mengantongi sertifikat pendidik, justru kehilangan fokus pada tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya. Energi, waktu, dan pikirannya terpecah. Di ruang kelas, hadir secara fisik, namun tidak sepenuhnya hadir secara batin.

Padahal, menjadi guru /ustad bukan sekadar profesi—ia adalah amanah mulia. Guru adalah penanam nilai, pembentuk karakter, dan penuntun masa depan generasi. Ketika amanah ini mulai terabaikan, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pembelajaran, tetapi juga keberkahan hidup.

Hilal Lokal VS Hilal Global, Dibumi yang Satu

Perlahan namun pasti, orientasi pun bergeser. Dari yang semula spiritualis menjadi materialistis. Dari yang semula pengabdian menjadi sekadar pekerjaan. Dari yang semula mendidik dengan hati, berubah menjadi sekadar menggugurkan kewajiban. Jika ini dibiarkan, maka hilanglah ruh pendidikan itu sendiri.

Falsafah Jawa telah lama mengingatkan: “Ngoyak uceng kelangan deleg.” Mengejar ikan kecil (uceng), justru kehilangan ikan besar (deleg). Dalam konteks ini, guru yang terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan berisiko kehilangan keberkahan profesi utamanya. Gaji tambahan mungkin bertambah, tetapi nilai keberkahan bisa berkurang. Penghasilan meningkat, tetapi kualitas pengabdian menurun.

Ironisnya, yang hilang bukan hanya “deleg” berupa tugas utama, tetapi juga kepercayaan masyarakat, kehormatan profesi, bahkan pahala dari setiap huruf yang diajarkan kepada murid.

Mari kita renungkan:

  1. Apakah aktivitas tambahan kita masih dalam kendali, atau justru mengendalikan kita?
  2. Apakah kita masih menempatkan tugas mendidik sebagai prioritas utama
  3. Ataukah kita tanpa sadar telah menukar amanah besar dengan keuntungan kecil?

Guru sejati bukan yang paling sibuk di luar, tetapi yang paling hadir di dalam kelas. Bukan yang paling banyak usahanya, tetapi yang paling besar keberkahannya.

Tips Fotografi Sederhana untuk Dokumentasi Acara

Sudah saatnya kita kembali pada tupoksi. Umur yo wis Tuo-tuo saat Menata niat. Meluruskan orientasi. Menjadikan profesi guru sebagai ladang ibadah, bukan sekadar ladang penghasilan.

Karena sejatinya, keberhasilan seorang guru bukan diukur dari seberapa banyak penghasilan tambahannya, tetapi dari seberapa besar pengaruh kebaikan yang ia tanamkan dalam jiwa murid-muridnya.

Ojo nganti ngoyak uceng kelangan deleg.
Jangan sampai karena mengejar yang kecil, kita kehilangan yang besar.

Kios kacamata 234 gladak solo
Rabu, 24 Maret 2026

Tips Fotografi Sederhana untuk Dokumentasi Acara

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement