
Boyolali, 16 Juni 2026 – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah menggelar Safari Komunitas Budaya Pentas Wayang Kulit di Kemel Kedunglengkong, Simo, Boyolali, Selasa (16/6/2026) malam. Kegiatan kolaborasi Dengan PDM Kabupaten Boyolali dan PCM Simo, mengusung tema “Nguri-uri Budaya, Menguatkan Dakwah, Mencerahkan Umat, Membangun Boyolali Maju” ini berlangsung meriah dengan dihadiri seluruh narasumber dan masyarakat Kemel Kedungengkong Simo Dan Sekitarnya.
Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari berbagai tokoh Muhammadiyah serta pemerintah daerah. Hadir dalam kesempatan tersebut Prof. Dr. H. Sofyan Anif, M.Si, Bendahara PWM Jawa Tengah, Dr. H. KRAT. A.M. Jumai, SE., MM, Ketua LDK PWM Jawa Tengah, Agus Irawan, SH, Bupati Boyolali, dan Drs. H. Ali Muhson, M.Pd., MH., M.Si., MM, Ketua PDM Kabupaten Boyolali. Pentas wayang kulit menghadirkan dalang Ki H. Ketut Budiman, ST., MT., Eng.
Dalam sambutannya, Bupati Boyolali Agus Irawan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan nilai budaya dan dakwah Islam. Menurutnya, wayang merupakan warisan budaya yang dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan moral, kebangsaan, dan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.
Sementara itu, Dr. H. KRAT. A.M. Jumai menjelaskan bahwa Safari Komunitas Budaya merupakan ikhtiar Muhammadiyah untuk mendekatkan dakwah kepada masyarakat melalui pendekatan kultural. Dakwah tidak hanya dilakukan di mimbar, tetapi juga melalui seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Ketua PDM Kabupaten Boyolali, Drs. H. Ali Muhson, menyampaikan pitutur Jawa yang sarat makna melalui tembang “Ojo Lamis” dan kisah “Kelinci Ucul”. Beliau menjelaskan bahwa ojo lamis mengandung pesan agar manusia tidak hanya pandai berkata manis atau berpura-pura baik di hadapan orang lain, tetapi harus memiliki ketulusan hati dan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Sedangkan kisah Kelinci Ucul mengajarkan pentingnya kewaspadaan, kecerdikan, dan kemampuan mengambil hikmah dari setiap peristiwa kehidupan. Menurutnya, nilai-nilai luhur budaya Jawa sangat relevan untuk memperkuat karakter generasi muda di era modern.
Kehangatan suasana semakin terasa dengan kehadiran Ustadz Pujiono, tokoh pendidikan dan dakwah Muhammadiyah, Majelis Tabligh PWM jateng yang turut memberikan pitutur budaya melalui pertunjukan Dengan gaya khas yang komunikatif menyampaikan Hasil Munas Tarjih 1995 , Pedoman hidup Islami Warga Muhammadiyah Kaitanya Hukum Seni Dan Budaya bahwa Sepanjang Tidak Fasad, ‘isyan (menimbulkan Kedurhakaan), Porno, syirik, Dan menjauhkan diri kepada Allah seni musik, gambar untuk kepentingan Pendidikan hukumnya Mubah.
Menariknya, Ustadz Pujiono juga membawakan lagu “Lintang Asmoro” yang diadaptasi menjadi versi doa. Lantunan lagu tersebut berisi harapan agar masyarakat Boyolali senantiasa mendapatkan keberkahan, keselamatan, serta menjadi generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari para hadirin yang larut dalam suasana religius dan penuh makna.


brp_del_th:null;
brp_del_sen:null;
delta:null;
module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 38;
Ki Kethut Budiman Membawakan Cerita Bima Ngaji inovasi dari cerita Bima Suci.
Pentas wayang kulit yang berlangsung hingga larut malam menjadi ruang silaturahmi warga sekaligus sarana edukasi yang menyenangkan. Melalui cerita-cerita wayang yang sarat nilai moral, masyarakat diajak memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kegiatan Safari Komunitas Budaya ini menjadi bukti bahwa dakwah dan budaya dapat berjalan beriringan. Muhammadiyah Jawa Tengah terus menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, merangkul berbagai lapisan masyarakat, sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa sebagai media membangun peradaban yang berkemajuan.


Comment