
Preman Saja Taat Pimpinan
Oleh : Pujiono Disampaikan Pada Iftitah Rapat PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum 14 Maret 2026
Muhasabah /Sindiran Keras untuk Guru dan Ustadz yang Lupa Disiplin
Kadang kita perlu bercermin dari tempat yang tidak kita duga. Bahkan dari dunia yang sering kita anggap negatif.
Coba perhatikan kehidupan para preman. Mereka hidup di jalanan, tidak semua berpendidikan tinggi, bahkan sebagian jauh dari nilai agama. Tetapi ada satu hal yang sering membuat kita tercengang: loyalitas dan ketaatan mereka kepada pimpinan.
Dalam berbagai cerita, termasuk film Preman Insyaf, digambarkan tokoh-tokoh seperti Kang Mus dan Kang Bahar yang memiliki satu kesamaan: tunduk pada komando pimpinan kelompok.
Jika pimpinan berkata datang, mereka datang.
Jika pimpinan memberi tugas, mereka jalankan.
Jika pimpinan melarang, mereka berhenti.
Mereka mungkin preman, tetapi disiplin organisasi mereka kuat.
Ironi Dunia Pendidikan
Sekarang mari kita lihat diri kita.
Kita guru.
Kita ustadz.
Kita orang yang setiap hari berbicara tentang akhlak, disiplin, dan ketaatan.
Tetapi kadang realitanya:
- Rapat dimulai pukul 08.00, datang pukul 08.30. Terlebih Pembelajran
- Jadwal piket ada, tapi sering dilupakan.
- Shalat berjamaah dianjurkan, tapi kadang kita sendiri tidak hadir.
- Aturan lembaga ada, tapi sering dianggap “tidak terlalu penting”.
Di sinilah muncul ironi yang menyakitkan:
Preman bisa lebih taat kepada pimpinan daripada pendidik.
Islam Mengajarkan Taat
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللّٰهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian.”
(QS. Al-Qur’an An-Nisa: 59)
Rasulullah SAW bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي عُسْرِكُمْ وَيُسْرِكُمْ
“Wajib atas kalian mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam keadaan sulit maupun mudah.”
(HR. Sahih Muslim)
Perhatikan baik-baik.
Ketaatan kepada pemimpin adalah perintah agama.Bukan sekadar aturan organisasi.
Sekolah /Pesantren Berdiri karena Ketaatan
sekolah /pesantren besar di negeri ini tidak berdiri karena bangunannya megah.
Ia berdiri karena kedisiplinan, keikhlasan, dan ketaatan orang-orang di dalamnya.*
Santri hormat kepada kiai.
Guru loyal kepada pimpinan.
Semua tunduk kepada aturan lembaga.
Itulah yang membuat Lembaga pesantren kuat.
Tetapi jika yang terjadi sebaliknya—
aturan dianggap ringan,
disiplin mulai longgar,
ketaatan mulai luntur—
maka pelan-pelan ruh pesantren akan hilang.
Pertanyaan yang Menggugah
Mari kita bertanya jujur kepada diri sendiri.
- Jika santri terlambat shalat berjamaah, kita menegur mereka. tetapi bagaimana jika ustadznya yang tidak berjamaah?
- Jika siswa melanggar aturan, kita menasihati mereka.tetapi bagaimana jika gurunya sendiri sering melanggar aturan lembaga?
Di sinilah kita perlu muhasabah yang serius.
Jangan Sampai Dipermalukan oleh Preman
Bayangkan jika suatu hari ada orang berkata:
“Preman saja patuh sama komandannya, masa ustadz tidak patuh sama pimpinan/Majelis/Lembaga
Kalimat itu mungkin terasa pahit.
Tetapi kadang kebenaran memang pahit.
Karena kita bukan sekadar pegawai lembaga.
Kita adalah penjaga marwah pendidikan dan agama.
Penutup: Mari Kembali ke Jati Diri
Jika preman saja bisa loyal kepada pimpinan mereka, maka guru dan ustadz harus jauh lebih tinggi dalam ketaatan dan kedisiplinan.
Mari kita hidupkan kembali budaya pesantren:
- Disiplin ibadah
- tertib aturan
- Hormat kepada pimpinan/majelis/persyarikatan
- Loyal kepada lembaga
Agar pesantren tetap memiliki ruhnya.
Dan agar tidak ada lagi sindiran yang memalukan:
“Preman saja taat pimpinan, masa kaum Terpelajar S1 Bahkan ustadz Ponpes Kalah Sama Loyalitas, Taat, ketertiban Preman .”
Banyudono, 10 Juli 2016


Comment