
Oleh : Pujiono ( Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘ulum Sambi/Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)
“Dosa Digital: Ketika Lisan Berpindah ke Jari”
Oleh : Pujiono
Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah/ Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi
الحمد لله الحمد لله الحمد لله
الحمد لله الذي هدانا للإسلام، ووفقنا للصيام والقيام، وبلغنا يوم الفطر في أمن وإيمان.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صلِّ على محمد، وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.
أما بعد،
فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله ليست شعارًا يُرفع، ولكنها سلوك يُرى.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita berkumpul dalam suasana Idul Fitri.
- Hari kemenangan… tetapi juga hari pertanggungjawaban.
- Hari kebahagiaan… tetapi juga hari evaluasi diri.
Karena tidak semua yang berpuasa menjadi bertakwa.
Dan tidak semua yang merayakan Idul Fitri benar-benar kembali suci.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff: 2–3)
Ayat ini adalah tamparan bagi kita semua.
Terutama bagi:
orang yang pandai berbicara agama,
orang yang didengar oleh masyarakat,
orang yang memiliki pengaruh di tengah umat,
Tetapi lisannya tidak sejalan dengan perbuatannya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di zaman yang aneh.
Orang bisa terlihat shalih di depan publik…
tetapi menjadi sangat kejam di balik layar.
Orang bisa berbicara tentang ukhuwah…
tetapi tangannya justru menyebarkan perpecahan.
Orang bisa berdakwah tentang akhlak…
tetapi jarinya menulis kata-kata yang menyakitkan.
Inilah yang disebut:
dosa digital — ketika lisan berpindah ke jari.
Allah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Hari ini, “ucapan” bukan hanya suara.
Tetapi juga status, komentar, dan pesan yang kita kirim.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Izinkan saya berbicara lebih tegas.
Berapa banyak tokoh…
yang di mimbar berbicara tentang persatuan,
tetapi di media sosial justru menyulut perpecahan?
Berapa banyak ustadz…
yang mengajarkan akhlak,
tetapi menyindir, merendahkan, bahkan menjatuhkan saudara seiman?
Berapa banyak orang berilmu…
yang ilmunya tidak membuatnya semakin lembut,
tetapi justru semakin keras dan mudah menghina?
Padahal Rasulullah bersabda:
إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ
“Sesungguhnya termasuk manusia paling buruk adalah yang dijauhi manusia karena keburukannya.”
(HR. Bukhari)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini umat tidak hanya butuh orang pintar.
Umat butuh teladan.
Umat tidak hanya butuh ceramah.
Umat butuh akhlak nyata.
Karena satu kalimat yang salah di media sosial…
bisa memecah ribuan hati.
Satu unggahan yang provokatif…
bisa merusak persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Allah telah memperingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Jika datang kepadamu suatu berita maka periksalah dengan teliti.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Namun hari ini yang terjadi adalah:
- yang belum jelas sudah disebarkan
- yang belum pasti sudah dikomentari,
- yang belum benar sudah diviralkan
Ini bukan sekadar kesalahan.ini adalah dosa yang bisa merusak umat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Izinkan saya menyampaikan satu renungan yang mungkin menusuk hati kita.
Bayangkan nanti di hari kiamat…
- Semua yang kita tulis ditampilkan.
- Semua komentar kita dibacakan.
- Semua pesan kita diperlihatkan.
Lalu Allah bertanya:
“Mengapa engkau menyakiti saudaramu dengan tulisanmu?”
“Mengapa engkau menyebarkan sesuatu yang tidak benar?”
“Mengapa engkau memecah belah umat-Ku?”
Apa yang akan kita jawab?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
- Idul Fitri bukan sekadar tradisi.
- Idul Fitri adalah momentum perubahan.
Jika setelah Ramadhan:
- Lisan kita masih kasar
- Tulisan kita masih menyakitkan
- hati kita masih penuh kebencian.
- maka bisa jadi kita hanya lapar dan haus, tetapi belum berubah.
Rasulullah bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai titik balik.
Bagi para tokoh: jadilah penyejuk, bukan pemecah.
Bagi para ustadz: jadilah teladan, bukan hanya penceramah.
Bagi masyarakat: jadilah penebar kebaikan, bukan penyebar kebencian.
Mulai hari ini:
- tahan jari sebelum menulis
- tahan emosi sebelum berkomentar
- Tahan diri sebelum menyebarkan,
Karena satu tulisan bisa menjadi saksi di akhirat. - semoga kita termasuk orang yang beruntung selamat dunia akhirat dari dosa akibat sosial media yang membahayakan
Doa
اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وركوعنا وسجودنا.
اللهم اغفر لنا ما قدمنا وما أخرنا وما أسررنا وما أعلنا.
اللهم اغفر لنا ما كتبناه بأيدينا مما لا يرضيك.
اللهم إن كانت كلماتنا قد فرقت بين عبادك فاغفر لنا واجعلنا سببًا في جمعهم.
اللهم طهر ألسنتنا وأيدينا وقلوبنا من الكذب والغيبة والنميمة.
اللهم أصلح قادتنا وعلماءنا واجعلهم هداة مهتدين.
اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلام.
اللهم لا تجعلنا سببًا في فتنة ولا سببًا في فرقة.
اللهم اجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين.
اللهم إن أحييتنا فاجعل حياتنا طاعة لك.
وإن توفيتنا فتوفنا وأنت راضٍ عنا.
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
وصلِّ اللهم على محمد وعلى آل محمد.
والحمد لله رب العالمين.



Comment