Berita
Home » Berita » Rektor UMS Paparkan Lima Resep Menjadi Guru Muhammadiyah Hebat

Rektor UMS Paparkan Lima Resep Menjadi Guru Muhammadiyah Hebat

SURAKARTA – Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali, Pujiono, bersama lebih dari 650 guru Muhammadiyah dari berbagai daerah sukses menyukseskan kegiatan Silaturahmi Akbar Guru Muhammadiyah se-Jawa Tengah yang digelar di Edutorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan yang dihadiri 13.000 guru Muhammadiyah tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah, memperkuat solidaritas, sekaligus membangun komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah.

Kehadiran rombongan guru Boyolali dikoordinasi FGM Boyolalii menjadi salah satu bentuk keseriusan guru-guru Muhammadiyah Boyolali dalam menyukseskan agenda silaturahmi tingkat wilayah tersebut. Antusiasme peserta bahkan melampaui target awal 500 guru. Jumlah pendaftar tercatat lebih dari 650 orang.

Salah satu pesan penting dalam kegiatan tersebut disampaikan Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. Dalam sambutannya, ia memaparkan lima resep menjadi guru Muhammadiyah yang hebat, unggul, dan berkemajuan.

Menurutnya, menjadi guru Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengajar. Guru harus mempunyai kekuatan pengabdian, ketangguhan perjuangan, semangat berkompetisi, kreativitas, serta kesejahteraan yang mendukung profesionalitas.

Rektor UMS: Guru Muhammadiyah Harus Memiliki Empat Daya

Lima Resep Guru Muhammadiyah Hebat

Pertama, Daya Panggil. Guru harus menyadari bahwa profesi pendidik merupakan panggilan pengabdian. Mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi amanah dan bagian dari ibadah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk generasi berakhlak mulia.

Kedua, Daya Juang. Guru Muhammadiyah harus memiliki mental pejuang, tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan pendidikan. Perubahan zaman menuntut guru untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi lembaganya.

Ketiga, Daya Saing. Guru harus memiliki semangat fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Persaingan bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan saling menginspirasi dan melahirkan prestasi. Sekolah Muhammadiyah harus mampu menunjukkan kualitas layanan pendidikan dan menghasilkan lulusan yang unggul.

Keempat, Daya Inovasi Tiada Henti. Guru hebat tidak boleh berhenti berinovasi. Perkembangan teknologi dan perubahan karakteristik peserta didik menuntut pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan bermakna. Inovasi tidak harus mahal, tetapi berawal dari keberanian mencoba dan kemauan melakukan perubahan.

FGM BOYOLALI SIAP SUKSESKAN SILATURAHMI AKBAR FGM JAWA TENGAH

Kelima, Daya Beli. Aspek kesejahteraan guru juga menjadi perhatian. Kemampuan ekonomi yang memadai merupakan salah satu faktor pendukung profesionalitas, ketenangan, dan produktivitas guru. Guru perlu mendapatkan dukungan kesejahteraan agar memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kompetensi dan meningkatkan kualitas pengabdiannya.

Lima resep tersebut menjadi pengingat bahwa guru Muhammadiyah hebat bukan hanya mereka yang pandai menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mereka yang memiliki semangat pengabdian, daya juang, daya saing, inovasi, dan kesejahteraan.

Pujiono: Silaturahmi Harus Melahirkan Gerakan Nyata

Bagi FGM Boyolali, kegiatan ini bukan sekadar menghadiri undangan atau memenuhi agenda organisasi. Lebih dari itu, silaturahmi menjadi ruang konsolidasi, berbagi pengalaman, membangun jejaring, dan membawa pulang inspirasi untuk kemajuan sekolah Muhammadiyah.

Keterlibatan lebih dari 650 guru yang mendaftar menunjukkan besarnya semangat dan antusiasme guru Muhammadiyah untuk terus bertumbuh dan berkolaborasi.

FGM Boyolali Siapkan Seminar Academic Make Up

Momentum ini diharapkan tidak berhenti pada pertemuan seremonial, tetapi mampu melahirkan gerakan nyata di masing-masing sekolah dan madrasah Muhammadiyah.

Guru Muhammadiyah harus menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar pelaksana rutinitas pendidikan. Sebab, kemajuan sekolah sangat ditentukan oleh kualitas, militansi, kreativitas, dan kebersamaan para gurunya.

Silaturahmi Akbar FGM Jawa Tengah menjadi penguat pesan bahwa membangun pendidikan Muhammadiyah membutuhkan guru-guru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara ideologi, kokoh dalam pengabdian, dan adaptif menghadapi perubahan zaman.

Daya panggil menguatkan pengabdian, daya juang menjaga keteguhan, daya saing melahirkan prestasi, daya inovasi menciptakan perubahan, dan daya beli menopang kesejahteraan.

Guru Muhammadiyah hebat bukan sekadar mampu mengajar, tetapi mampu menggerakkan, menginspirasi, dan menghadirkan kemajuan bagi umat dan bangsa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement