Uncategorized
Home » Berita » Luka Yang Tak Terlihat ; Efek Domino Akibat Pandemi

Luka Yang Tak Terlihat ; Efek Domino Akibat Pandemi

oleh : Muhammad Fahrizal

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FKIP UMS

Pagi hari di sebuah kelas di pinggir kota Surakarta, seorang guru Bahasa Indonesia SMA berdiri di depan kelas dengan ekspresi yang sulit ditafsirkan campuran antara frustrasi, sedih, dan rasa iba. Ia tidak menyangka harus menghadapi kenyataan ini: beberapa siswanya yang sudah duduk di kelas sebelas ternyata belum bisa membaca dengan lancar. Sebuah kemampuan dasar yang seharusnya sudah dikuasai sejak bangku sekolah dasar.
Ini bukan cerita tunggal. Kisah serupa terjadi di berbagai sudut negeri, dari ruang kelas di Nusa Tenggara hingga sekolah-sekolah di pelosok Kalimantan. Pandemi COVID-19 telah meninggalkan luka yang dalam pada sistem pendidikan Indonesia luka yang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi nyata dirasakan oleh jutaan anak yang kini tumbuh dengan fondasi belajar yang rapuh.
Ketika Sekolah Hanya Formalitas
Pemerintah resmi memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara masif untuk menekan penyebaran virus. Kebijakan itu logis di atas kertas. Namun di lapangan, kenyataannya jauh berbeda.
Infrastruktur digital yang timpang, keterbatasan akses internet di daerah, hingga ketidaksiapan orang tua dalam mendampingi proses belajar menjadikan PJJ lebih sebagai prosedur formalitas daripada proses pendidikan yang sesungguhnya. Banyak siswa yang hadir secara daring tanpa benar-benar belajar. Banyak tugas yang dikerjakan oleh orang tua atau kakak, bukan oleh siswa itu sendiri.
Studi yang dilakukan SMERU Research Institute pada 2021 mengungkapkan bahwa selama pandemi, banyak anak Indonesia kehilangan capaian belajar setara dengan 6 hingga 11 bulan pembelajaran efektif. Sementara itu, laporan Bank Dunia memproyeksikan bahwa learning loss yang dialami anak-anak di negara-negara berpendapatan menengah seperti Indonesia berpotensi memangkas produktivitas ekonomi nasional hingga 10%.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah sirine tersembunyi dari sebuah krisis yang sedang berjalan perlahan dan belum selesai.
Dari Meja Kelas hingga Dunia Kerja
Learning loss tidak berhenti di gerbang sekolah. Ia bergerak seperti domino yang jatuh satu per satu, menyentuh setiap lapisan sistem pendidikan, lalu merambah ke tatanan sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Pertama: Kesenjangan Kompetensi Antargenerasi
Banyak siswa kehilangan fondasi belajar dasar sebelum naik ke jenjang menengah. Akibatnya, guru-guru SMP dan SMA kini menghadapi kelas dengan jarak kemampuan antarsiswa yang sangat lebar. Sebagian siswa mampu mengikuti pelajaran dengan baik, sementara sebagian lain tertinggal jauh. Mengajar satu materi untuk dua kelompok yang berbeda secara bersamaan bukan perkara mudah, dan banyak yang terkorbankan dalam prosesnya.
Kedua: Tekanan pada Perguruan Tinggi
Di bangku perkuliahan yang kini mulai didominasi oleh generasi COVID, perguruan tinggi di berbagai daerah mulai merasakan dampaknya. Para dosen mengeluhkan kemampuan mahasiswa baru yang menurun mulai dari kemampuan membaca kritis, berpikir analitis, hingga manajemen waktu yang buruk. Kemampuan-kemampuan itu seharusnya sudah terasah di bangku sekolah, namun pandemi mencuri waktu yang seharusnya menjadi ruang pembentukan itu.
Penghibur di Kala Krisis: Kecerdasan Buatan Hadir
Tepat ketika sistem pendidikan Indonesia masih tertatih-tatih memulihkan diri, dunia dilanda gelombang revolusi teknologi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: kemunculan kecerdasan buatan (AI) yang masif dan mudah diakses oleh siapa saja.
Sejak ChatGPT meledak di akhir 2022 dan diikuti oleh berbagai platform serupa, kecerdasan buatan menjadi topik yang tak bisa dihindari termasuk dalam dunia pendidikan. Ia bagaikan bilah bermata dua: di satu sisi menawarkan harapan nyata, di sisi lain menyimpan ancaman yang tak kalah serius.
Angin Segar bagi Dunia Pendidikan
Bagi daerah-daerah yang sudah memiliki fondasi pendidikan yang relatif baik dengan infrastruktur digital memadai, tenaga pendidik terlatih, dan ekosistem belajar yang kondusif kehadiran kecerdasan buatan memang menjadi kabar yang menggembirakan.
Teknologi ini berpotensi menjadi jembatan bagi demokratisasi akses kualitas pendidikan. Siswa di daerah terpencil kini bisa mendapatkan penjelasan mendalam tentang konsep mata pelajaran tertentu, latihan soal yang adaptif sesuai kemampuan, hingga umpan balik yang instan hal-hal yang dulu hanya bisa dinikmati oleh sekolah-sekolah bersumber daya besar di kota.
Sejumlah studi awal dari platform teknologi pendidikan yang mengintegrasikan fitur adaptif berbasis kecerdasan buatan menunjukkan peningkatan terukur dalam capaian belajar siswa yang menggunakannya secara konsisten. Hasil ini memberi sinyal positif bahwa teknologi, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi instrumen pemulihan yang transformatif.
Pada tataran kebijakan, hal ini pun sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang tertuang dalam Permendikbudristek No. 262/M/2022 yang menekankan pembelajaran berpusat pada peserta didik dan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kecerdasan buatan, bila diintegrasikan secara bijak, bisa menjadi akselerator menuju visi tersebut.

Pelarian: Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan
Namun di balik segala optimisme itu, ada bahaya yang jauh lebih dekat dari yang kita kira.
Kecerdasan buatan, ketika digunakan tanpa arah yang jelas, dengan mudah berubah dari alat bantu menjadi jalan pintas. Dan inilah yang kini mulai terjadi secara diam-diam di banyak ruang kelas Indonesia.
Siswa yang seharusnya belajar berpikir, menganalisis, dan menyimpulkan, kini cukup mengetik pertanyaan ke dalam kotak teks, lalu menyalin jawaban yang muncul dalam hitungan detik. Proses berpikir yang justru merupakan inti dari pendidikan itu sendiri dilompati begitu saja.
Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran yang mengambang. Survei yang dilakukan sejumlah lembaga pendidikan di berbagai kota besar menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan untuk mengerjakan tugas sekolah meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Yang lebih mengkhawatirkan: sebagian besar siswa tidak merasa bahwa itu adalah bentuk kecurangan.
Ketiga: Krisis Kejujuran Akademik
Ketika batas antara “dibantu teknologi” dan “dikerjakan oleh teknologi” menjadi kabur, sistem penilaian pendidikan kita menghadapi masalah yang serius. Nilai di atas kertas mungkin tetap tinggi bahkan meningkat namun kemampuan nyata siswa bisa jadi stagnan atau bahkan merosot. Kita sedang berhadapan dengan paradoks berbahaya: angka yang membaik, kompetensi yang berlubang.
Guru pun terjepit di posisi yang serba sulit. Di satu sisi, mereka dituntut melek teknologi dan mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam pembelajaran. Di sisi lain, mereka harus menjaga kualitas proses belajar yang sesungguhnya di tengah keterbatasan waktu, minimnya pelatihan, dan tekanan administratif yang tidak kunjung berkurang.
Keempat: Kesenjangan yang Semakin Lebar
Alih-alih menjadi pemerata, kecerdasan buatan justru berisiko memperlebar jurang kesenjangan yang sudah ada sejak lama.
Siswa dari keluarga mampu, dengan akses internet stabil dan perangkat yang layak, akan lebih cepat beradaptasi dan memanfaatkan teknologi ini secara produktif. Sementara siswa di daerah terpencil yang jangankan laptop, sinyal telepon pun masih menjadi kemewahan akan semakin tertinggal dalam percepatan ini.
Dua kecepatan pendidikan berjalan dalam satu negara yang sama. Dan jika dibiarkan tanpa intervensi kebijakan yang serius, jurang itu akan terus melebar hingga sulit ditutup kembali.
Luka Lama, Tantangan Baru
Indonesia kini berdiri di persimpangan yang menentukan.
Di satu sisi, ada luka lama yang belum sepenuhnya pulih learning loss akibat pandemi yang masih terasa di bangku-bangku kelas hingga hari ini. Di sisi lain, ada gelombang perubahan teknologi yang bergerak jauh lebih cepat dari kemampuan sistem pendidikan kita untuk beradaptasi.
Yang dibutuhkan bukan sekadar semangat, melainkan strategi yang jelas, terukur, dan berpihak pada semua lapisan masyarakat bukan hanya mereka yang sudah beruntung. Kurikulum perlu dirancang ulang dengan menjadikan kemampuan berpikir kritis sebagai fondasi, bukan pelengkap. Guru perlu dibekali bukan hanya dengan pelatihan teknologi, tetapi juga dengan ruang, waktu, dan keleluasaan untuk benar-benar mendidik.
Kecerdasan buatan tidak akan pergi. Ia akan terus berkembang, terus masuk ke dalam kelas, terus mewarnai cara generasi berikutnya belajar dan bekerja. Pertanyaannya bukan lagi soal menerima atau menolak. Pertanyaannya adalah: siapa yang mengendalikan siapa?
Apakah kita yang mengarahkan teknologi untuk melayani pendidikan? Atau kita yang membiarkan teknologi menggantikan proses berpikir yang seharusnya menjadi hak setiap anak bangsa?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak ada di dalam mesin. Ia ada di tangan kita para pendidik, pembuat kebijakan, orang tua, dan masyarakat luas yang memilih untuk tidak berpaling dari luka yang tak terlihat ini.

Sumber Bacaan
Pandemi Covid-19 dan Hasil Belajar Siswa. Dapat di Akses pada; https://smeru.or.id/id/research-id/pandemi-covid-19-dan-hasil-belajar-siswa
Indonesia Economic Prospects (IEP) June 2023: The Invisible Toll of Covid-19 on Learning. Dapat di Akses pada https://www.worldbank.org/in/country/indonesia/publication/indonesia-economic-prospects-iep-june-2023-the-invisible-toll-of-covid-19-on-learning
Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbudristek) Nomer 262/M/2022 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Dapat di Akses pada https://gurupaudpnf.kemendikdasmen.go.id/repo/Regulasi/6d0a851f-f2b3-4edb-9173-98ef2b9ecd86
Learning Loss or Learning Gain? A Potential Silver Lining to School Closures in Indonesia. Dapat di Akses Pada https://rise.smeru.or.id/en/publication/learning-loss-or-learning-gain-potential-silver-lining-school-closures-indonesia.

SMP & SMA PonpesMU Manafiul Ulum Silaturahim ke SMP Muhammadiyah Sinar Fajar Cawas Klaten

isi Tulisan Diluar Tanggung Jawab Redaksi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement