
BOYOLALI — Pimpinan Cabang Muhammadiyah Boyolali kembali menggelar Pengajian Ahad Pahing sebagai ruang memperkuat iman, memperluas wawasan keislaman, sekaligus mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap kehidupan dan amal yang telah dijalani.
Pengajian yang dilaksanakan pada Ahad, 23 Agustus 2026, pukul 06.30–08.00 WIB, bertempat di Masjid Banaran Boyolali, menghadirkan Prof. H. Taufik Kasturi, S.Psi., Ph.D., Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai pemateri.
Mengangkat materi “Ketetapan Masuk Surga atau Neraka”, kajian mengajak jamaah memahami secara lebih mendalam persoalan takdir, amal perbuatan, serta tanggung jawab manusia di hadapan Allah SWT.
Tema tersebut menjadi penting karena kehidupan manusia tidak berhenti pada urusan dunia. Setiap amal, pilihan, dan sikap manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, pembahasan tentang surga dan neraka bukan sekadar untuk menumbuhkan rasa takut, tetapi juga membangun kesadaran agar manusia semakin sungguh-sungguh memperbaiki iman dan amal salehnya.
Jamaah diajak untuk tidak terjebak pada pemahaman bahwa ketetapan Allah berarti manusia boleh pasrah tanpa berusaha. Sebaliknya, iman kepada takdir harus melahirkan sikap ikhtiar, doa, tawakal, dan memperbanyak amal kebajikan.
Pengajian Ahad Pahing tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa tidak seorang pun mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Karena itu, yang terpenting bukan merasa telah aman dengan amal hari ini, melainkan terus berusaha menjaga iman, memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, serta memohon kepada Allah agar diberikan husnul khatimah.
Kegiatan semakin semarak dengan hadirnya jamaah dari berbagai unsur Muhammadiyah dan masyarakat sekitar. Selain pengajian, panitia juga menyediakan pengobatan gratis sebagai bentuk kepedulian sosial. Layanan tersebut mendapat dukungan dari RS PKU ‘Aisyiyah Boyolali.
Melalui Pengajian Ahad Pahing, PCM Boyolali tidak hanya menghadirkan kajian keagamaan, tetapi juga berupaya membangun gerakan dakwah yang menyentuh kehidupan masyarakat secara utuh: menguatkan iman, memperbaiki amal, dan menghadirkan kemanfaatan sosial.
Semoga kajian ini menjadi pengingat bersama bahwa hidup adalah kesempatan untuk beramal, sementara akhir kehidupan adalah wilayah ketetapan Allah. Tugas manusia adalah terus berjalan di jalan kebaikan, hingga Allah SWT berkenan menutup kehidupan dengan iman dan memasukkannya ke dalam surga-Nya.


Comment