0leh : Mutia Ayu Kusuma

ERA SOCIETY 5.0 BAGI GENERASI MUDA MENURUT PERSPEKTIF KOSMOPOLITAN ISLAM BERKEMAJUAN
Kita hidup dalam zaman yang dinamis dan penuh dengan perubahan. Perkembangan teknologi yang begitu cepat telah membawa manusia memasuki era Society 5.0, yaitu suatu konsep kehidupan masyarakat yang menempatkan teknologi sebagai bagian penting dalam aktivitas manusia. Generasi muda menjadi kelompok yang paling dekat dengan perubahan ini karena mereka tumbuh bersama kemajuan internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai inovasi digital lainnya. Kehidupan modern yang serba cepat telah mengubah pola pikir, gaya hidup, cara belajar, bahkan cara manusia berinteraksi satu sama lain. Di satu sisi, perubahan tersebut memberikan banyak kemudahan dan peluang besar bagi perkembangan peradaban manusia. Namun di sisi lain, perubahan zaman juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam bidang moral, etika, dan identitas keagamaan.
Saat ini banyak fenomena yang menunjukkan terjadinya degradasi moral di kalangan generasi muda. Budaya konsumtif, individualisme, penyalahgunaan media sosial, penyebaran ujaran kebencian, hingga lunturnya sopan santun menjadi persoalan yang semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, sebagian perilaku tersebut mulai dianggap normal oleh masyarakat karena dianggap sebagai bagian dari perkembangan zaman. Padahal, dalam pandangan Islam, perilaku yang bertentangan dengan nilai moral dan adab tetaplah sebuah penyimpangan yang perlu diluruskan. Oleh sebab itu, diperlukan suatu cara pandang yang mampu menjawab tantangan modernisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Salah satu konsep yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut adalah kosmopolitan Islam berkemajuan.
Kosmopolitan Islam berkemajuan merupakan pandangan yang menempatkan Islam sebagai agama yang universal, terbuka, moderat, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya. Konsep ini memandang bahwa Islam tidak bertentangan dengan modernisasi, ilmu pengetahuan, maupun perkembangan teknologi. Sebaliknya, Islam justru mendorong umatnya untuk terus berkembang, berpikir kritis, dan menciptakan kemajuan bagi kehidupan manusia. Dalam perspektif ini, generasi muda diarahkan untuk menjadi pribadi yang religius sekaligus progresif, sehingga mampu menghadapi tantangan global dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai syariat.
Urgensi kosmopolitan Islam berkemajuan bagi generasi muda terletak pada kebutuhan akan pembentukan karakter muslim yang moderat, wasathiyah, dan rahmatan lil ‘alamin. Generasi muda tidak hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki akhlak dan tanggung jawab sosial yang baik. Di era globalisasi, manusia hidup berdampingan dengan berbagai budaya, agama, dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, Islam berkemajuan mengajarkan pentingnya sikap toleransi, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan tanpa harus kehilangan prinsip-prinsip keislaman. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi bagian dari masyarakat global sekaligus tetap memiliki identitas moral dan spiritual yang kuat.
Kosmopolitan Islam berkemajuan berpandangan bahwa ajaran Islam memiliki nilai universal yang selalu relevan di setiap zaman. Nilai-nilai seperti keadilan, kemanusiaan, perdamaian, kejujuran, dan tanggung jawab sosial merupakan prinsip yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan modern. Akan tetapi, relevansi Islam terhadap perkembangan zaman bukan berarti mendukung pengikisan adab atau pembebasan moral tanpa batas. Sebaliknya, Islam berkemajuan justru mengedepankan modernisasi yang adaptif dan tetap berpijak pada etika. Oleh karena itu, penggunaan teknologi harus diarahkan pada hal-hal yang bermanfaat dan tidak merusak moralitas masyarakat.
Perubahan sosial akibat globalisasi juga menjadi tantangan bagi dakwah Islam. Generasi muda saat ini lebih tertarik pada sesuatu yang praktis, kreatif, dan mudah diakses melalui media digital. Oleh sebab itu, dakwah tidak dapat dilakukan hanya dengan cara-cara konvensional semata. Islam berkemajuan mendorong adanya inovasi dalam penyebaran nilai-nilai Islam melalui pemanfaatan teknologi digital seperti media sosial, podcast, video edukatif, dan platform pembelajaran daring. Dakwah yang humanis, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan generasi muda akan lebih mudah diterima dibandingkan pendekatan yang bersifat kaku dan menghakimi.
Dalam perspektif kosmopolitan Islam berkemajuan, perubahan zaman justru dapat menjadi peluang besar bagi pemberdayaan umat. Kemajuan teknologi memungkinkan manusia memperoleh akses ilmu pengetahuan yang lebih luas dan cepat. Generasi muda dapat belajar dari berbagai sumber, berkolaborasi lintas negara, dan menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya bukan ancaman apabila digunakan dengan bijak. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Kecanggihan teknologi juga mendorong berkembangnya ijtihad pemikiran dalam Islam. Umat Islam dituntut untuk lebih terbuka terhadap perkembangan sains dan teknologi agar mampu bersaing dalam dunia global. Islam berkemajuan tidak menghendaki umatnya tertinggal dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sebab, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki semangat belajar yang tinggi agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Selain itu, kosmopolitan Islam berkemajuan juga berorientasi pada nilai keadilan dan kemanusiaan. Sikap ini menunjukkan bahwa Islam memiliki kepedulian besar terhadap persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Globalisasi memang membawa banyak perbedaan budaya dan cara hidup, namun perbedaan tersebut seharusnya dipandang sebagai kekayaan yang dapat memperluas wawasan manusia. Interaksi dengan berbagai budaya akan membentuk generasi muda yang lebih terbuka, kritis, dan memiliki empati sosial yang tinggi.
Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda di era Society 5.0. Melalui pendidikan, manusia dapat memahami cara menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Pendidikan juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda yang memiliki pendidikan baik akan lebih mudah memahami persoalan sosial secara objektif dan mencari solusi yang konstruktif. Dengan demikian, perubahan zaman dapat diarahkan pada peningkatan kualitas hidup manusia, bukan justru membawa kerusakan moral.
Generasi muda yang melek teknologi memiliki potensi besar untuk menciptakan kolaborasi dalam berbagai bidang kehidupan. Perkembangan media digital memungkinkan komunikasi dan kerja sama dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk membangun gerakan sosial, kegiatan pendidikan, dakwah digital, hingga inovasi ekonomi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Semangat kolaborasi ini sangat penting dalam membangun peradaban yang maju dan inklusif.
Namun demikian, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pengendalian diri dan kesadaran moral. Media sosial misalnya, dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan untuk menyebarkan informasi positif dan edukatif. Akan tetapi, media sosial juga dapat menjadi sumber penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku konsumtif apabila tidak digunakan dengan bijak. Oleh karena itu, generasi muda harus memiliki kemampuan literasi digital serta landasan nilai keislaman yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh dampak negatif perkembangan teknologi.
Pada dasarnya, perkembangan teknologi merupakan peluang besar bagi generasi muda untuk menjawab tantangan zaman. Generasi muda memiliki kemampuan adaptasi yang lebih cepat terhadap perubahan dibandingkan generasi sebelumnya. Jika potensi ini dimanfaatkan dengan baik, maka generasi muda dapat menjadi pelopor perubahan dalam mengatasi keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Mereka dapat menjadi aktor utama dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil, maju, dan beradab.
Islam berkemajuan tidak hanya berfokus pada aspek ibadah ritual semata, tetapi juga pada pembangunan masyarakat yang sejahtera, berpendidikan, dan berkeadaban. Konsep ini mengajarkan bahwa keberagamaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menjaga identitas keislamannya sekaligus mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai perbedaan yang ada di masyarakat.
Pada akhirnya, kosmopolitan Islam berkemajuan memandang perubahan zaman dan kemajuan teknologi bukan sebagai alasan untuk meninggalkan nilai-nilai Islam demi mencari validasi sosial di media digital. Sebaliknya, modernisasi harus dijadikan ruang untuk menghadirkan nilai-nilai Islam secara lebih relevan, humanis, dan progresif di tengah kehidupan masyarakat modern. Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pelopor peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga kuat dalam moral, spiritualitas, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, era Society 5.0 dapat menjadi momentum bagi lahirnya generasi muslim yang cerdas, adaptif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam berkemajuan.


Comment