Opini
Home » Berita » PELAJAR SEBAGAI TONGGAK MASA DEPAN KOTA

PELAJAR SEBAGAI TONGGAK MASA DEPAN KOTA

Oleh: Ayudia Catur Fridasari

(Sekrretaris Umum PR IPM PonpesMu manafiul Ulum Sambi)

Kerap sekali ketika kita mendengar kata “Pembangunan Kota” maka yang sering terlintas di dalam pikiran kita adalah membayangkan  proyek-proyek fisik apa saja yang  sedang dibangunnya. Entah itu proyek pembangunan jalan tol, pendirian gedung-gedung tinggi, pembangunan jembatan-jembatan yang mewah atau bahkan pembaruan besar-besaran dalam infrastruktur teknologi dan transportasi umum. Sehingga kondisi ini membentuk opini di tengah masyarakat bahwa pembangunan kota seolah-olah hanyalah tugas mutlak pemerintah, arsitektur, dan alat alat berat yang membangun kota. Padahal sebuah  kota itu bukan hanya sekedar apa yang telah berhasil dibangun di atas tanahnya. Melainkan juga perihal masyarakat yang ada di dalamnya. Di balik pesatnya infrastruktur dan modernisasi tersebut, ada sebuah fakta ironis yang sedang kita hadapi hari ini. Pernahkah kita menyadari bahwa disaat kota kita semakin pintar dan modern, manusianya justru rentan kehilangan rasa empati, krisis ide kreatif, dan merasa semakin berjarak satu sama lain?
 Kegelisahan ini bukan sekedar tebakan, tapi diperkuat oleh data riil tentang kondisi generasi muda saat ini. Berdasarkan laporan Digital Civility Indeks (DCI) dari Microsoft, netizen Indonesia ternyata berada di peringkat bawah dalam hal kesopanan digital di Asia Tenggara akibat tingginya konten negatif, dan aksi saling mengejek di dunia maya. Di sisi lain, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa hampir semua remaja usia sekolah (13-18 tahun), yaitu sekitar 98%, sudah memakai internet. Sayangnya, waktu sekitar 3 sampai 5 jam di depan layar gawai lebih banyak mereka habiskan untuk hiburan pasif, seperti sekadar scrolling media sosial atau main game online seharian, bukan untuk kegiatan produktif yang berguna bagi lingkungan sekitar. Kondisi digital yang kurang sehat ini memicu dampak yang lebih mengkhawatirkan terhadap kesehatan mental dan cara bergaul para pelajar di perkotaan. Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) menunjukkan fakta bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental, dan 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental dalam 1 tahun terakhir. Fenomena ini sering kali berakar dari tekanan media sosial, kecanduan gadget, sampai rasa takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO).
Dunia digital yang seharusnya membuat pelajar semakin pintar, malah sering menjadi tempat mengisolasi diri. Pelajar akhirnya cuek dengan lingkungan mereka sendiri. Banyak yang sangat berani apabila di balik layar hp, tetapi mendadak kikuk, malu, dan tidak peka saat harus mengobrol langsung atau kerja bakti di lingkungan masyarakat. Masalah ini semakin berat karena adanya tantangan dari dalam dan luar diri pelajar. Secara internal, pelajar sering terjebak gaya hidup instan yang memicu sifat masa bodoh, konsumtif, dan egois. Serta energi mereka yang habis untuk mengejar nilai akademik sampai tidak ada sisa waktu untuk memikirkan kota tempat tinggalnya. Secara eksternal, ide ide hebat pelajar sering kali diremehkan orang dewasa karena dinilai “masih anak-anak” dan “belum berpengalaman”. Kalau suara kritis mereka terus dibungkam dan energi digital mereka habis hanya untuk pamer di media sosial, maka kota yang penuh dengan gedung-gedung mewah ini lama-kelamaan akan terasa mati karena kehilangan motor penggerak inovasinya. Untuk mengatasi tantangan ini, pelajar membutuhkan sinergi dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Pemerintah kota perlu menyediakan ruang-ruang partisipasi yang ramah pemuda, seperti forum diskusi rutin bersama wali kota. Agar ide ide hebat pelajar bisa didengar dan diwujudkan secara nyata.
Oleh karena itu, di tengah krisis sosial dan digital, peran aktif pelajar sangat dibutuhkan mulai dari sekarang agar kota bisa berkembang menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman. Keunggulan terbesar dari pelajar adalah cara berpikir mereka yang masih segar, kreatif, dan bebas dari kepentingan politik. Pelajar sering kali mampu melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang yang tidak biasa. Oleh karena itu, mereka lebih cekatan dalam menentukan solusi dari sebuah persoalan. Hebatnya ide ide hebat pelajar lahir bukan dari rapat yang menegangkan. Melainkan, melalui tugas-tugas yang diberikan sekolah, diskusi kelompok, atau sekedar obrolan santai di jam istirahat. Terlebih lagi, kita sedang berada di era digital, yang mana kota-kota yang ada di Indonesia sedang berlomba-lomba untuk menjadi kota yang cerdas atau kota yang lebih unggul dari kota lainnya. Di sinilah pelajar memegang peran kunci sebagai generasi yang sejak lahir sudah kenal dengan internet. Dengan  melihat kondisi ini, pelajar dapat memanfaatkan keahlian digitalnya untuk kemajuan kota. Misalnya, dengan membuat proyek kelompok berupa kampanye digital untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan umum, dan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan tempat wisata lokal atau kuliner khas kota agar lebih dikenal di kancah nasional maupun internasional. 
Tidak hanya itu, pelajar disetiap sekolah pasti mempunyai wadah yang sangat luar biasa untuk melakukan aksi nyata, seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathan, Tapak Suci, atau ekstrakulikuler pecinta alam. Melalui organisasi sekolah ini, pelajar bisa merancang kegiatan sosial yang berdampak langsung untuk masyarakat. Contoh nyatanya adalah PR IPM Manafi’ul ‘Ulum dengan gerakan rutin “BERLIAN” (Bersih Lingkungan). Yang membersihkan area sekolah, lingkungan pondok, dan sekitar rumah warga. Selain itu, melalui Hizbul Wathan dan Tapak Suci pelajar juga sering turun tangan langsung untuk mengajar anak-anak di lingkungan sekitar kota atau melakukan bakti sosial. Di luar aksi sosial dan adaptasi digital, tantangan nyata kota modern saat ini adalah ancaman terkikisnya kearifan lokal oleh arus globalisasi. Di sinilah pelajar mengambil peran sebagai perisai pelestari budaya. Melalui pertunjukan seni, literasi sejarah lokal, dan pelestarian bahasa daerah di lingkungan sekolah. Dari sini, pelajar dapat memastikan bahwa kemajuan teknologi di kota akan tetap berjalan selaras dengan akar budaya bangsa.
Ketika pelajar aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti ini, itu artinya mereka sedang menjadi aktor utama dalam membangun tata kota dari sisi manusianya. Mereka sedang membentuk masyarakat yang mempunyai rasa kepedulian sosial yang tinggi, kepedulian lingkungan, dan membentuk masyarakat yang mempunyai wawasan luas. Selain memberikan dampak langsung pada masyarakat, keterlibatan pelajar dalam organisasi juga merupakan modal penting untuk masa depan kota. Saat pelajar aktif di organisasi atau panitia acara sekolah, mereka belajar banyak hal penting yang tidak ada di dalam buku pelajaran sekolah, seperti belajar cara berkomunikasi yang baik, bekerjasama dalam tim, menghargai perbedaan pendapat, hingga mengelola administrasi dan keuangan kegiatan secara jujur, efisien, dan transparan. Karakter yang akan terbentuk dari organisasi pelajar adalah kedisiplinan, tertib, dan rasa bertanggung jawab. Karakter karakter inilah yang sebenarnya menjadi fondasi paling penting bagi kemajuan sebuah peradaban kota. Sebab, dalam hitungan beberapa tahun mendatang, generasi pelajar yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah, mereka akan menjadi pemimpin kota di masa depan. Merekalah yang kelak akan menggantikan para pejabat hari ini untuk mengelola jalannnya pemerintahan kota dengan jauh lebih bersih dan profesional.  Dengan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang berkualitas sejak usia sekolah, keberadaan pelajar memberikan jaminan bahwa masa depan kota akan dikelola oleh orang-orang yang jujur, berilmu, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. 
Pada akhirnya, pembangunan kota adalah sebuah proses maraton panjang yang tidak akan pernah mengenal garis akhir. Nasib sebuah kota di masa depan sangat bergantung pada benih-benih kebaikan yang ditanam oleh generasi mudanya hari ini. Pelajar harus berkontribusi aktif di tanah kelahiran mereka sendiri. Dengan terus menyumbangkan ide ide kreatif, aktif bergerak dalam berbagai aksi sosial, ikut menjaga ketertiban di lingkungan sekitar, serta memegang teguh nilai budaya dan agama, pelajar telah membuktikan kapasitasnya bahwa mereka layak menjadi penyangga utama kemajuan. Menjadi pelajar sebagai tonggak masa depan kota berarti pelajar siap mengambil sumpah dan tanggung jawab secara sadar untuk merawat, menjaga, merancang, dan membangun kota agar selalu menjadi rumah yang aman, sejahtera, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement