
Oleh : Pujiono
Ketua FGM kabupaten Boyolali
Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu. Namun ada pekerjaan yang jauh lebih berat sekaligus lebih menentukan masa depan sekolah, yaitu mencari murid baru.
Banyak guru pandai berbicara saat rapat. Ide-idenya hebat, gagasannya menarik, bahkan sangat idealis. Namun sekolah tidak akan maju hanya dengan wacana. Sekolah membutuhkan aksi nyata. Terlebih bagi sekolah swasta yang sebagian besar biaya operasional dan pengembangannya ditopang oleh keberadaan murid.
Murid adalah nyawa sekolah. Sebaik apa pun kualitas guru, secanggih apa pun fasilitas yang dimiliki, jika murid tidak ada maka sekolah akan kehilangan denyut kehidupannya. Karena itu, kepedulian terhadap PPDB bukan hanya tugas kepala sekolah atau panitia penerimaan murid baru, melainkan tugas moral seluruh guru dan karyawan.
Ada prinsip sederhana yang perlu dipahami bersama: jika tahun ini sekolah melepas 25 siswa, maka minimal PPDB juga harus mendapatkan 25 siswa agar posisi sekolah tetap seimbang (balance). Jika yang masuk hanya 15 siswa, berarti sekolah mengalami minus 10 siswa. Jika kondisi ini terus berulang setiap tahun, jumlah murid akan semakin menyusut dan lambat laun sekolah akan menghadapi kesulitan yang serius.
Karena itu, jangan hanya bangga dengan suksesnya acara pelepasan. Yang lebih penting adalah memastikan bangku yang ditinggalkan lulusan segera terisi oleh peserta didik baru. Pelepasan yang meriah tidak akan mampu menutupi kenyataan jika jumlah murid terus berkurang.
Contoh nyata telah ditunjukkan oleh Ustaz Sahid sebagai kepala sekolah baru SMP Muhammadiyah Sambi. Beliau tidak hanya menyusun program di ruang rapat, tetapi turun langsung melakukan pendekatan door to door dengan memanfaatkan data lulusan SD Muhammadiyah PK Sambi. Dari ikhtiar tersebut berhasil diperoleh tiga murid baru. Ini membuktikan bahwa hasil tidak datang dari menunggu, melainkan dari usaha yang sungguh-sungguh.
Bayangkan jika setiap guru memiliki semangat yang sama. Jika satu orang bisa mendapatkan tiga murid, bagaimana jika sepuluh guru bergerak bersama? Tentu hasilnya akan jauh lebih besar. Sekolah tidak membutuhkan penonton yang hanya mengamati. Sekolah membutuhkan pejuang yang mau turun ke lapangan.
Saatnya mengubah budaya banyak bicara menjadi budaya banyak bekerja. Saatnya setiap guru menjadi marketing sekolah, menjadi duta yang memperkenalkan keunggulan sekolah kepada masyarakat. Jangan menunggu calon murid datang sendiri. Jemput mereka dengan pelayanan, komunikasi, dan keteladanan.
Ingat, sekolah yang sehat bukan hanya yang mampu melepas banyak lulusan, tetapi juga yang mampu menggantinya dengan jumlah murid baru yang minimal seimbang, bahkan lebih banyak. Jangan sampai pelepasan 25 siswa tetapi PPDB hanya memperoleh 10 atau 15 siswa. Itu bukan keseimbangan, melainkan kemunduran.
Maka pertanyaannya, jika hari ini sudah ada guru yang bergerak mencari murid, apakah kita masih akan diam, atau ikut berjuang menjaga nyawa sekolah? Karena masa depan sekolah tidak ditentukan oleh banyaknya rapat, tetapi oleh banyaknya langkah nyata yang dilakukan untuk menghadirkan murid baru.
Boyolali, 30 Mei 2026


Comment