Opini
Home » Berita » PENDIDIKAN BELUM SEMPURNA

PENDIDIKAN BELUM SEMPURNA

Oleh: Naufal Iqbal Nabawi

Ketua Umum PR IPM PonpesMu Manafi’ul ‘ Ulum Sambi Boyolali


Pendidikan seharusnya menjadi tempat setiap anak bertumbuh, bukan sekadar tempat memilih siapa yang layak disebut “berprestasi”. Di sekolah maupun pesantren, setiap peserta didik semestinya memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, dibimbing ketika mengalami kesulitan, dan didorong untuk menemukan potensi terbaiknya. Namun, realitas yang saya lihat justru menunjukkan hal yang berbeda. Kita sering kali lebih sibuk merayakan mereka yang berhasil berdiri di atas podium, sementara mereka yang tertinggal perlahan menghilang dari perhatian.
Fenomena ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi nyata adanya. Ketika seorang peserta didik memenangkan olimpiade, menjuarai lomba, atau mengharumkan nama lembaga, prestasinya menjadi kebanggaan bersama. Itu adalah hal yang patut diapresiasi. Namun, di waktu yang sama, masih ada peserta didik yang kesulitan memahami pelajaran, kehilangan semangat belajar, atau bahkan menunjukkan perilaku yang dianggap “nakal”. Sayangnya, mereka lebih sering diberi label daripada didampingi.
Tidak sedikit peserta didik yang dicap malas, pembuat masalah, atau sulit diatur. Padahal, kita jarang benar-benar bertanya mengapa mereka bersikap demikian. Bisa jadi mereka sedang menghadapi persoalan keluarga, tekanan psikologis, kesulitan memahami materi pelajaran, atau sekadar belum menemukan seseorang yang mau mendengarkan. Laporan UNESCO bahkan menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang tidak inklusif dan praktik pelabelan (labeling) menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko peserta didik kehilangan motivasi belajar hingga putus sekolah. Ketika pendidikan hanya berfokus pada hasil, kita tanpa sadar lupa bahwa setiap perilaku memiliki cerita yang perlu dipahami.
Budaya mengukur keberhasilan dari prestasi semata juga membuat ukuran keberhasilan sebuah lembaga pendidikan menjadi sempit. Sekolah atau pesantren sering dipandang berhasil karena banyaknya piala yang dipajang atau peserta didik yang diterima di perguruan tinggi ternama. Padahal, keberhasilan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada angka dan penghargaan. Keberhasilan juga terlihat dari seberapa banyak peserta didik yang berhasil dibimbing keluar dari rasa putus asa, memperoleh kembali kepercayaan dirinya, dan menemukan harapan untuk terus belajar.
Kegelisahan ini bukan sekadar pendapat pribadi. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa skor rata-rata Indonesia berada pada angka 359 untuk membaca, 366 untuk matematika, dan 383 untuk sains, masih berada di bawah rata-rata OECD yang masing-masing mencapai 476, 472 dan 485. Selain itu, hanya sekitar tiga dari sepuluh peserta didik Indonesia yang mampu mencapai kompetensi minimum membaca dan matematika. Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya mencetak lebih banyak peserta didik berprestasi, tetapi juga memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal karena sistem yang belum mampu mengakomodasi kebutuhan mereka.
Sebagai pelajar Muhammadiyah, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jalan untuk memanusiakan manusia. Nilai yang diwariskan oleh Muhammadiyah mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dan berhak memperoleh pendidikan yang mencerahkan. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi panggung bagi mereka yang sudah unggul. Pendidikan harus menjadi tempat yang mampu mengubah mereka yang kesulitan menjadi percaya diri, mereka yang tertinggal menjadi berkembang, dan mereka yang pernah berbuat salah menjadi pribadi yang lebih baik.
Karena itu, saya percaya perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Perubahan dapat dimulai dari ruang kelas, dari asrama, dan dari diri kita sendiri. Guru yang memilih mendengarkan sebelum menghakimi, teman yang bersedia menemani belajar, serta lingkungan yang tidak mudah memberi cap buruk kepada seseorang adalah bagian dari pendidikan yang sesungguhnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa dukungan guru dan hubungan yang positif antara pendidik dengan peserta didik berkontribusi terhadap meningkatnya motivasi belajar, rasa percaya diri, dan capaian akademik peserta didik. Sebab, ilmu bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.
Setelah melihat berbagai kenyataan tersebut, saya menyadari bahwa saya menulis essay ini bukan karena saya merasa memiliki benar. Justru sebaliknya, saya menulis essay ini karena kegelisahan saya sebagai seorang pelajar yang setiap hari hidup di tengah dunia pendidikan dan menyaksikan bagaimana tidak semua peserta didik memperoleh perhatian yang sama. Saya tidak sedang mengajak pembaca mencari siapa yang harus disalahkan. Saya hanya ingin mengajak kita berhenti sejenak, melihat kembali pendidikan yang sedang kita jalani, lalu bertanya kepada diri sendiri apakah pendidikan kita benar-benar telah menjadi tempat yang adil bagi setiap peserta didik.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak peserta didik yang berhasil menjadi juara, tetapi dari seberapa sedikit peserta didik yang merasa sendirian dalam perjuangannya. Sebab, pendidikan yang memanusiakan manusia bukanlah pendidikan yang hanya mengangkat mereka yang telah bersinar, melainkan pendidikan yang rela berjalan bersama mereka yang masih mencari cahaya.
Lalu, jika sekolah dan pesantren terus sibuk merayakan mereka yang telah berhasil, siapa yang akan berdiri di samping mereka yang masih berjuang? Dan jika pendidikan benar-benar merupakan hak setiap anak bangsa, mengapa hingga hari ini masih ada peserta didik yang merasa sendirian? Atau jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk menghitung jumlah prestasi, hingga lupa menghitung berapa banyak anak yang diam-diam kehilangan harapan?

Isi Menjadi Tanggung Jawab Penulis, Diluar tanggung jawab Redaksi

PENTINGNYA MENINGKATKAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN MELALUI AKSI NYATA BERSAMA GENERASI MUDA

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement