
brp_del_th:null;
brp_del_sen:null;
delta:null;
module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 35;
Jari yang Bertakwa: Akhlak Muslim di Media Sosial
Oleh : Pujiono
( Anggota Majelis tabligh PWM Jawa Tengah )
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah. Takwa bukan hanya terlihat dalam shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga dalam ucapan, tulisan, komentar, unggahan, dan pesan yang kita sebarkan di media sosial.
Pada hari ini, banyak orang membawa dunia di dalam genggaman. Melalui ponsel, APJII mencatat pengguna internet Indonesia tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa. Dengan Ponsel seseorang bisa membaca ilmu, mendengar nasihat, bersilaturahim, berdagang, belajar, dan berdakwah. Tetapi melalui ponsel yang sama, seseorang juga bisa menyebarkan fitnah, mencaci, membuka aib, menipu, menyebar hoaks, mengadu domba, dan merusak ukhuwah. Kemkomdigi juga mengidentifikasi 1.890 konten hoaks di ruang digital pada periode 20 Oktober 2024 hingga 6 Desember 2025.
Karena itu, khutbah ini mengangkat tema: Jari yang Bertakwa: Akhlak Muslim di Media Sosial.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah mengingatkan bahwa setiap ucapan dicatat oleh malaikat.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Dahulu manusia banyak berbicara dengan lisan. Hari ini, manusia banyak berbicara dengan jari. Maka status, komentar, pesan, unggahan, dan berita yang kita bagikan juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Jangan kita berkata, “Ini hanya komentar.” “Ini hanya bercanda.” “Ini hanya meneruskan pesan.” Sebab di sisi Allah, semua itu dicatat.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Salah satu akhlak penting di media sosial adalah tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Banyak orang mudah marah hanya karena membaca judul. Banyak orang langsung percaya setelah melihat potongan video. Banyak orang menyebarkan kabar tanpa tahu benar atau salah. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ
Artinya:Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”QS. Al-Hujurat: 6.
Ayat ini sangat jelas. Orang beriman tidak boleh gegabah menerima berita. Orang beriman tidak boleh menjadi penyambung lidah kebohongan. Orang beriman tidak boleh menjadi alat penyebar fitnah.
Maka sebelum membagikan berita, tanyakan pada diri kita: Apakah ini benar? Apakah sumbernya jelas? Apakah bermanfaat? Apakah tidak menyakiti orang lain? Apakah Allah ridha jika saya menyebarkannya?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Media sosial juga sering membuat orang mudah mencela dan merendahkan. Padahal Allah melarang kita saling mengejek, mencela, dan memberi gelar buruk.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا تَلْمِزُوْا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْأَلْقَابِ
Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk’.(QS. Al-Hujurat: 11).
Seorang Muslim boleh memberi nasihat, tetapi tidak boleh menghina. Boleh mengkritik, tetapi tidak boleh memfitnah. Boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh merusak persaudaraan. Kita juga dilarang berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا
Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”(QS. Al-Hujurat: 12)
Ghibah hari ini tidak hanya terjadi dalam obrolan langsung. Ghibah bisa terjadi lewat komentar, status, tangkapan layar, potongan video, dan pesan berantai. Maka berhati-hatilah. Jangan sampai jari kita menjadi jalan dosa.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah juga berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban’.QS. Al-Isra’: 36.
Tidak semua berita harus dikomentari. Tidak semua masalah harus kita tanggapi. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti. Kadang keselamatan iman ada pada kemampuan menahan diri.
Maka ada beberapa pesan penting:
Pertama, gunakan media sosial untuk kebaikan: ilmu, dakwah, silaturahim, dan manfaat.
Kedua, saring sebelum sharing. Jangan sebarkan berita yang belum jelas.
Ketiga, jaga kehormatan orang lain. Jangan membuka aib, menghina, atau mempermalukan.
Keempat, berkomentarlah dengan adab. Kritik boleh, tetapi harus benar dan santun.
Kelima, hindari perdebatan yang tidak bermanfaat.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.”
QS. Al-Ahzab: 70–71.
Semoga Allah menjadikan lisan dan jari kita sebagai sarana kebaikan, bukan sumber dosa.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita memperbaiki akhlak digital kita. Jangan sampai shalat kita rajin, tetapi komentar kita menyakiti orang. Jangan sampai kita membaca Al-Qur’an, tetapi jari kita menyebarkan fitnah. Jangan sampai kita mengaku beriman, tetapi media sosial kita penuh cacian dan kebencian.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Pernahkah kita menyebarkan berita tanpa memeriksa?
Pernahkah kita menghina di kolom komentar?
Pernahkah kita membuka aib orang lain?
Pernahkah kita ikut menyebarkan fitnah karena emosi?
Jika pernah, maka bertobatlah. Hapus yang salah. Minta maaf jika perlu. Berhenti menjadi bagian dari rantai keburukan.
Allah berfirman:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُولٰئِكَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
Artinya:
“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang melakukan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah.”QS. An-Nisa: 17.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Keluarga juga harus menjadi benteng utama. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan ponsel. Suami dan istri saling mengingatkan. Anak muda harus cerdas teknologi sekaligus kuat iman dan akhlak.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
QS. At-Tahrim: 6.
Marilah kita berdoa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, fitnah, ghibah, adu domba, dan ucapan yang menyakiti.
Ya Allah, jagalah jari-jari kami dari menulis keburukan, menyebarkan hoaks, membuka aib, menghina sesama, dan memecah belah umat.
Ya Allah, jadikan media sosial kami sebagai sarana ilmu, dakwah, silaturahim, amal saleh, dan kemanfaatan.
Ya Allah, lindungilah keluarga kami dari konten haram, penipuan digital, judi online, pornografi, perundungan, fitnah, dan segala kerusakan.
Ya Allah, jadikanlah negeri Indonesia negeri yang aman, damai, jujur, beradab, dan Engkau berkahi.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Comment